Setiawan, Burhan Ali (2016) REVITALISASIMAQA<SHID AL-SYARI<>’AH DALAM PROSES FORMULASI STANDAR SERTIFIKASI RUMAH SAKIT SYARIAH. Masters thesis, Fakultas Hukum UNISSULA.
COVER.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (654kB)
ABSTRAK.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (182kB)
DAFTAR ISI.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (107kB)
BAB I.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (498kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (596kB)
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (758kB)
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (189kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (255kB)
Abstract
Penelitian ini menguji bagaimana konsep maqa>shid al-syari>’ah didayagunakan dalam proses formulasi standar sertifikasi rumah sakit syariah versi MUKISI (Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islami). Oleh karena muara maqa>shid al-syari>’ah itu adalah kemaslahatan yang berporos pada lima tujuan syariah (kulliyat al-khams), yaitu: memelihara agama (hifzh al-di>n), memelihara jiwa (hifzh al-nafs), memelihara akal (hifzh al-‘aql), memelihara keturunan (hifzh al-nasl), dan memelihara harta (hifzh al-ma>l), maka metode pengujian ini dilakukan dengan mencermati pendayagunaan metodologi maqa>shid al-syari>’ah yang terkait dengan kemaslahatan dalam proses formulasi standar sertifikasi rumah sakit syariah. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan, Pertama, bahwa konsep maqa>shid al-syari>’ah dalam standar sertifikasi rumah sakit syariah hanya digunakan sebagai sarana pengelompokkan sub bab saja dan tidak ada penjelasan sama sekali tentang bagaimana maqa>shid al-syari>’ahdigunakan. Kedua, tidak adanya pembatasan nilai mashlahah pada proses penentuan standar, sehingga mengkhawatirkan terjadinya penetapan standar yang didasarkan pada kemauan atau kepentingan pribadi (hawa nafsu) dengan mengatasnamakan mashlahah.Ketiga, Minimnya frekuensi penggunaan landasan normatif dari al-Qur’an, hadits serta kaidah-kaidah fikih, faktanya dari 50 standar yang digunakan, hanya terdapat 19 landasan normatif dari Nash al-Qur’an, 4 hadits dan 2 kaidah fikih. Artinya ada 50% standar yang belum memiliki landasan normatif. Minimnya kaidah fikih yang digunakan juga menunjukan bahwa banyak standar yang memiliki landasan normatif kurang spesifik dengan tujuan yang diharapkan, sehingga mengesankan cenderung permisif dan kurang akuratif sudut argumennya (wijhat al-nazhar). Tiga poin penemuan dalam penelitian ini, menjadi alasan utama bagi peneliti untuk mengupayakan revitalisasi atau pendayagunaan kembali konsep maqa>shid al-syari>’ahdalam proses formulasi standar sertifikasi rumah sakit syariah, dari segi metodologinya, pembatasan nilai mashlahahnya dan penambahan frekuensi landasan normatifnya.
Kata kunci: maqa>shid al-syari>’ah, standar sertifikasi rumah sakit syariah, rumah sakit syariah.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Hukum Fakultas Hukum > Mahasiswa FH - Skripsi Ilmu Hukum |
| Date Deposited: | 14 Oct 2016 02:11 |
| Last Modified: | 14 Oct 2016 02:11 |
| URI: | https://repository.unissula.ac.id/id/eprint/5545 |
