library@unissula.ac.id
Logo Universitas Islam Sultan Agung Repository UNISSULAUniversitas Islam Sultan Agung Semarang

TANGGUNG JAWAB PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) DALAM PEMBUATAN AKTA JUAL BELI TANAH YANG BATAL DEMI HUKUM DI KABUPATEN PEKALONGAN

Detail Tugas Akhir

TANGGUNG JAWAB PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) DALAM PEMBUATAN AKTA JUAL BELI TANAH YANG BATAL DEMI HUKUM DI KABUPATEN PEKALONGAN

Rona, Salma Huwaida Putri (2025) TANGGUNG JAWAB PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) DALAM PEMBUATAN AKTA JUAL BELI TANAH YANG BATAL DEMI HUKUM DI KABUPATEN PEKALONGAN. Masters thesis, Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Berkas Tugas Akhir

PDF
Text
Magister Kenotariatan_21302300264_fullpdf.pdf
PDF
Text
Magister Kenotariatan_21302300264_pernyataan_publikasi.pdf
Restricted to Registered users only
Akses terbatas: khusus pengguna terdaftar Ukuran File (285kB)

Abstract

Pejabat Pembuat Akta Tanah merupakan pejabat umum yang bertugas untuk melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta otentik sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Satuan Rumah Susun. Pada saat ini, seringkali dalam prakteknya, PPAT membuat akta perjanjian jual beli tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga menimbulkan kerugian bagi para pihak yang terlibat. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis: 1) Tanggung jawab Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) terhadap Akta yang dibuatnya dinyatakan Batal Demi Hukum di Kabupaten Pekalongan. 2) Mekanisme pelaksanaan putusan Pengadilan sebagai bentuk tanggung jawab Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) terhadap Akta yang dibatalkan demi Hukum di Kabupaten Pekalongan.
Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian hukum empiris. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis empiris. Jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer, yang diperoleh dari observasi dan wawancara. Analisis dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian disimpulkan: 1) Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang membuat akta yang dinyatakan batal demi hukum dapat dikenakan sanksi administratif, perdata, dan pidana. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) tersebut juga dapat dituntut ganti kerugian oleh pihak yang merasa dirugikan. 2) Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) mengikuti prosedur pelaksanaan putusan Pengadilan, apabila putusan Pengadilan terhadap Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) tersebut dinyatakan tidak tepat, maka dapat mengajukan banding. Namun, jika putusan Pengadilan menyatakan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) bersalah, maka Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dapat dikenakan sanksi pidana atau perdata.
Kata Kunci: PPAT, Tanggung Jawab, Batal Demi Hukum

Informasi Item

Actions (login required)

View Item
View Item
Repository UNISSULAPerpustakaan Universitas Islam Sultan Agung

Telusur

Layanan

Informasi

  • AlamatJl. Raya Kaligawe KM 4, Semarang 50112
  • PelayananSenin–Jumat, 07.00–18.00 WIB
    Sabtu, Minggu & hari libur tutup.
  • NPP3302202D2011823
© 2026 Perpustakaan Universitas Islam Sultan Agung. Hak cipta karya tetap pada penulis masing-masing. KebijakanOAI-PMHRSSDijalankan dengan EPrints