library@unissula.ac.id
Logo Universitas Islam Sultan Agung Repository UNISSULAUniversitas Islam Sultan Agung Semarang

KEABSAHAN AKTA OTENTIK PERJANJIAN KREDIT YANG PENANDATANGANANNYA DILAKUKAN SECARA SIRKULER

Detail Tugas Akhir

KEABSAHAN AKTA OTENTIK PERJANJIAN KREDIT YANG PENANDATANGANANNYA DILAKUKAN SECARA SIRKULER

Mulyawati, Ruffiana Indah (2025) KEABSAHAN AKTA OTENTIK PERJANJIAN KREDIT YANG PENANDATANGANANNYA DILAKUKAN SECARA SIRKULER. Masters thesis, Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Berkas Tugas Akhir

PDF
Text
Magister Kenotariatan_21302300128_fullpdf.pdf
PDF
Text
Magister Kenotariatan_21302300128_pernyataan_publikasi.pdf
Restricted to Registered users only
Akses terbatas: khusus pengguna terdaftar Ukuran File (160kB)

Abstract

Akta perjanjian kredit yang dibuat dihadapan Notaris adalah akta otentik. Akta tersebut memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna, akan tetapi menjadi kehilangan keontetikannya atau menjadi akta dibawah tangan apabila para pihak melakukan pelanggaran prosedural, dimana akta yang dibuat Notaris penandatanganannya dilakukan secara tidak bersamaan atau secara sirkuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa bagaimana keabsahan akta otentik perjanjian kredit yang ditandatangani secara sirkuler dan bagaimana akibat hukum akta otentik perjanjian kredit yang ditandatangani secara sirkuler.

Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif meneliti kaidah atau peraturan hukum sebagai suatu bangunan sistem yang terkait dengan suatu peristiwa hukum. Jenis metode pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan Peraturan Perundang-Undangan (the statute approach) yang merupakan pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan yang bersangkut dengan permasalahan.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perjanjian kredit dapat terdegradasi menjadi akta dibawah tangan apabila penandatangannya secara sirkuler atau secara tidak bersamaan. Penghadap yang tidak hadir pada saat penandatanganan akta melanggar ketentuan Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris yang menyatakan bahwasannya” Segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditandatangani oleh setiap penghadap, saksi dan Notaris, kecuali ada penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dengan menyebutkan alasannya. karena penandatanganan akta tidak dapat dilakukan segera setelah akta dibacakan oleh Notaris. Apabila terjadi degradasi akta dan merugikan para pihak, Notaris dapat dimintai pertanggungjawaban secara perdata, yaitu dituntut ganti rugi, biaya dan bunga.

Kata Kunci: Kedudukan Akta, Penandatanganan Akta, Degradasi Akta

Informasi Item

Actions (login required)

View Item
View Item
Repository UNISSULAPerpustakaan Universitas Islam Sultan Agung

Telusur

Layanan

Informasi

  • AlamatJl. Raya Kaligawe KM 4, Semarang 50112
  • PelayananSenin–Jumat, 07.00–18.00 WIB
    Sabtu, Minggu & hari libur tutup.
  • NPP3302202D2011823
© 2026 Perpustakaan Universitas Islam Sultan Agung. Hak cipta karya tetap pada penulis masing-masing. KebijakanOAI-PMHRSSDijalankan dengan EPrints