FEDORA, MUTIA (2026) PERAN POLRI DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN TERHADAP ANAK (STUDI KASUS DI POLRESTA BARELANG). Undergraduate thesis, Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
|
Text
Ilmu Hukum_30302300297_fullpdf.pdf |
|
|
Text
Ilmu Hukum_30302300297_pernyataan_publikasi.pdf Restricted to Registered users only |
Abstract
Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila menempatkan hukum pidana sebagai instrumen perlindungan masyarakat, termasuk anak sebagai kelompok rentan. Kekerasan terhadap anak masih tinggi dan menimbulkan dampak serius bagi korban. Polri berperan strategis dalam penyidikan, perlindungan, dan pemulihan korban berdasarkan peraturan perundang-undangan. Profesionalisme, pendekatan humanis, koordinasi lintas lembaga, serta penegakan hukum yang berorientasi pada kepentingan terbaik anak menjadi kunci efektivitas penanganan kasus kekerasan terhadap anak. Tujuan penelitian untuk mengetahui peran Polri dalam penyidikan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang terjadi di Polresta Barelang dan untuk mengetahui kendala dalam proses penyidikan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang terjadi di Polresta Barelang dan solusinya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi deskriptif analitis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan, observasi, dan wawancara di Polresta Barelang. Sumber data meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Analisis data dilakukan secara kualitatif untuk menilai peran kepolisian dalam penyidikan kekerasan terhadap anak.
Hasil penelitian ini bahwa peran Polri dalam penyidikan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang terjadi di Polresta Barelang dilaksanakan melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak pada Satuan Reserse Kriminal. Unit ini berfungsi menerima laporan, melakukan penyelidikan awal, serta melaksanakan penyidikan sesuai ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan undang-undang perlindungan anak. Penyidik mengumpulkan keterangan saksi, korban, dan terduga pelaku serta melengkapi alat bukti, termasuk visum et repertum. Proses penyidikan dilakukan dengan pendekatan ramah anak, melindungi identitas korban, serta berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk pendampingan dan rehabilitasi korban dan kendala dalam proses penyidikan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang terjadi di Polresta Barelang dan solusinya. Penyidikan di Polresta Barelang menghadapi kendala kompleks mulai dari trauma psikis korban, minimnya saksi, hingga ketergantungan berlebihan pada hasil visum medis. Masalah diperburuk oleh keterbatasan penyidik bersertifikat, birokrasi antarlembaga yang lambat, serta budaya normalisasi kekerasan dalam keluarga. Keadilan restoratif juga sering disalahgunakan demi kepentingan damai sepihak. Solusinya, penyidik wajib menerapkan pemeriksaan berbasis psikologi forensik dan mengoptimalkan alat bukti non-medis seperti keterangan ahli. Penguatan koordinasi melalui sistem satu pintu dan edukasi masyarakat secara masif sangat diperlukan. Penegakan hukum harus konsisten mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak di atas segalanya guna menjamin keadilan yang hakiki.
Kata Kunci; Anak, Kekerasan, Penyidikan, Polri.
| Dosen Pembimbing: | Fitri, Amalia | UNSPECIFIED |
|---|---|
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Hukum Fakultas Hukum > Mahasiswa FH - Skripsi Ilmu Hukum |
| Depositing User: | Pustakawan 1 UNISSULA |
| Date Deposited: | 09 Apr 2026 08:45 |
| URI: | https://repository.unissula.ac.id/id/eprint/45677 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
