Jalalah, Iin Inarotul (2025) DAMPAK FENOMENA SELF-LOVE TERHADAP PERUBAHAN PERSPEKTIF PEREMPUAN MUSLIMAH INDONESIA DI TIMUR TENGAH TENTANG PERNIKAHAN. Undergraduate thesis, Universitas Islam Sultan Agung.

[thumbnail of Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah)_30502300070_fullpdf.pdf] Text
Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah)_30502300070_fullpdf.pdf

| Download (2MB)
[thumbnail of Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah)_30502300070_pernyataan_publikasi.pdf] Text
Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah)_30502300070_pernyataan_publikasi.pdf
Restricted to Registered users only

| Download (337kB)

Abstract

Fenomena self-love mulai berkembang kuat di kalangan perempuan
Muslimah Indonesia yang tinggal di kawasan Timur Tengah. Dalam konteks ini,
self-love dipahami sebagai usaha mengenali, menerima, dan merawat diri secara
utuh fisik, mental, dan spiritual dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
Pemahaman tersebut lahir dari pengalaman hidup di lingkungan diaspora yang
mempertemukan perempuan dengan berbagai wacana baru, mulai dari kesehatan
mental, pengembangan diri, hingga pemaknaan religiusitas dalam kehidupan
sehari-hari. Akses pada komunitas Muslimah daring juga memberi ruang aman bagi
mereka untuk berbagi cerita, mencari dukungan, dan menguatkan identitas diri.

Perubahan cara pandang ini berpengaruh pada bagaimana mereka
memaknai pernikahan. Jika sebelumnya pernikahan sering dianggap sebagai
kewajiban sosial yang semestinya ditempuh pada usia tertentu, kini lebih dipahami
sebagai keputusan matang yang memerlukan kesiapan emosional, spiritual, dan
finansial. Perempuan merasa perlu memahami diri, menata tujuan hidup, serta
memastikan kestabilan pribadi sebelum memasuki hubungan yang bersifat
mitsaqan ghalizha. Di sisi lain, sebagian perempuan tetap menghadapi tekanan
keluarga atau lingkungan untuk menikah sesuai standar sosial, sehingga muncul
dinamika batin antara prinsip pribadi dan ekspektasi sosial.
Dari perspektif hukum Islam, orientasi pada kesiapan diri tidak dipandang
bertentangan dengan syariat. Ulama kontemporer menekankan bahwa kesiapan
mental dan spiritual merupakan bagian dari tanggung jawab pernikahan. Karena itu,
penundaan pernikahan untuk menjaga kesehatan jiwa dan memastikan kualitas
kehidupan rumah tangga justru selaras dengan maqasid al-syari‘ah khususnya
menjaga jiwa (hifz an-nafs) dan menjaga keturunan (hifz an-nasl). Secara
keseluruhan, self-love menjadi faktor penting yang membentuk cara perempuan
Muslimah diaspora memandang pernikahan secara lebih reflektif, matang, dan
sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mereka yakini.
Kata Kunci: self-love, pernikahan, perempuan Muslimah, diaspora, hukum Islam,
maqasid al-syari‘ah

Dosen Pembimbing: Fadzlurrahman, Fadzlurrahman | UNSPECIFIED
Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Fakultas Agama Islam
Fakultas Agama Islam > Mahasiswa FAI - Skripsi Syari'ah (Ahwal Syakhshiyah)
Depositing User: Pustakawan 4 UNISSULA
Date Deposited: 31 Dec 2025 06:17
URI: https://repository.unissula.ac.id/id/eprint/44000

Actions (login required)

View Item View Item