AFNI, NUR (2019) MAHAR YANG TINGGI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI KASUS KABUPATEN LEMBATA, NUSA TENGGARA TIMUR). Undergraduate thesis, Universitas Islam Sultan Agung.
cover.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (1MB)
publikasi.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (200kB)
daftar isi.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (591kB)
abstrak.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (194kB)
bab I.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (382kB)
bab II.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (491kB)
bab III.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (194kB)
bab IV.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (425kB)
bab V.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (9kB)
daftar pustaka.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (9kB)
Abstract
Dalam skripsi ini, penulis membahas mengenai permintaan mahar prnikahan yang mahal di masyarakat adat suku Lamaholot di Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur. Belis merupakan sebuat tradisi adat yang memiliki nilai-nilai luhur dan bentuk penghargaan terhadap kaum perempuan di Suku Lamaholot.
Adapun tujuan dari belis adalah sebagai symbol sahnya sebuah perkawinan,sebagai tanda bahwa si gadis telah diambil keluar dari keluarga asalnya. Setiap laki-laki yang ingin meminang gadis dari suku Lamaholot harus menggunakan belis yang nantinya akan diberikan kepada wanita suku Lamaholot yang hendak dipinang. Masyarakat Lamaholot belisnya dikonkritkan dalam betuk nilai dan ukuran gading gajah yang tidak mudah untuk diperoleh. Walaupun gading gajah didaerah Lembata sangat sulit didapatkan, namun tradisi adat ini tetap berlaku dan dipertahankan oleh Masyarakat Lamaholot. Masalah yang dikaji dalam skripsi ini
adalah : 1. Bagaimana penetapan mengenai mahar yang tinggi di Kabupaten Lembata ? 2. Bagaimana tinjuan hukum Islam terhadap mahar yang tinggi ?.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana penetapan mahar yang tinggi di Kabupaten Lembata dan untuk mengetahui tentang bagaimana tujuan hukum Islam terhadap mahar yang tinggi. Permasalahan tersebut dikaji dalam Penelitian Deskriptif Kualitatif, yaitu penelitian yang mempunyai tujuan untuk mencari fakta sosial di masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan jawaban atas permasalahan yang ada, (1).
Secara umum, Mahar yang digunakan dalam suatu proses perkawinan di masyarakat suku Lamaholot adalah belis gading gajah. Belis merupakan sesuatu yang wajib dalam tradisi suku tersebut. Artinya bahwa jika tidak ada gading gajah maka pernikahan tidak bias dilanjutkan. Belis yang di berikan harus setara dengan kedudukan wanita tersebut, jika pendidikannya tinggi maka akan semakin banyak
belis yang diminta. (2). Tidak ada batasan maksimum dan minimum penetapan mahar menurut Islam, boleh-boleh saja meminta mahar yang mahal dengan ketentuan jika laki-laki tersebut mampu, karena tidak ada dalil yang melarang
untuk meminta mahar yang tinggi hanya saja dalam Islam tidak dianjurkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam memberikan mahar. Dan Islam sesungguhnya bukan agama yang mempersulit sesuatu termaksud dalam perihal pemberian mahar.
Karea sebaik-baiknya wanita adalah yang paling rendah mas kawinnya. Oleh karena itu, lebih baik sewajarnya saja dalam memberikan mahar.
Kata Kunci: Mahar Yang Tinggi, Adat Belis, Tinjauan Hukum Islam
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Agama Islam Fakultas Agama Islam > Mahasiswa FAI - Skripsi Syari'ah (Ahwal Syakhshiyah) |
| Date Deposited: | 31 Aug 2020 03:03 |
| Last Modified: | 31 Aug 2020 03:03 |
| URI: | https://repository.unissula.ac.id/id/eprint/17432 |
